Senin, 16 Mei 2011

Stres

STRES
Pengertian stress
Istilah stres dikemukakan oleh Hans Selye yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas disulut oleh berbagai faktor psikologis atau faktor fisik atau kedua kombinasi faktor tersebut. Menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stres tidak saja kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari,1989).
Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam 3 pendekatan yaitu Stimulus, Respons dan Proses.
1.      Stimulus
Kita dapat mengetahui hal ini dari pilihan seseorang terhadap sumber atau penyebab ketegangan berupa keadaan atau situasi dan peristiwa tertentu. Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut stressor. Beberapa ahli mengkategorikan ini menjadi 3, yaitu:
a.       Peristiwa Katastropik, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir bandang.
b.      Peristiwa hidup yang penting, misalnya di PHK atau perceraian.
c.       Keadaan kronis, misalnya hidup pada situasi dan kondisi yang sesak dan padat.
2.      Respons
Respon yaitu reaksi seseorang terhadap stressor. Maka diketahui terdapat 2 komponen.
a.       Komponen psikologis, contohnya seperti pola perilaku, berpikir dan emosi.
b.      Komponen fisiologis, contohnya seperti detak jantung, keringat, sakit perut.
Kedua respon ini disebut dengan strain atau ketegangan.
3.      Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain ditambah dengan satu lagi hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang di dalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

Apa kaitan stres dengan psikologi lingkungan?
Ada beberapa model stres. Cox (dalam Crider, dkk 1983) mengemukakan 3 model stres yaitu:
a.       Response-based model
Stres model ini mengacu pada sebagai kelompok gangguan kejiwaan dan respon-respon psikis yang timbul pada situasi sulit. Model ini mencoba untuk mengidentifikasikan pola-pola kejiwaan dan respon-respon kejiwaaan yang diukur pada lingkungan yang sulit. Pusat perhatian dari model ini adalah bagaimana stressor yang berasal dari peristiwa lingkungan yang berbeda-beda dapat menghasilkan respon stres yang sama.
b.      Stimulus-based model
Model stres ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat stimuli stres. Ada 3 karakteristik dari stimuli stres ini:
1)      Overload
Karakteristik ini diukur ketika sebuah stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat mengadaptasi lebih lama lagi.
2)      Conflict
Konflik diukur ketika sebuah stimulus secara simultan membangkitkan dua atau lebih respon-respon yang tidak berkesesuaian. Situasi-situasi konflik bersifat ambigu, dalam arti stimulus tidak memperhitungkan kecenderungan respon yang wajar.
3)      Uncontrollability
Adalah peristiwa-peristiwa dari kehidupan yang bebas atau tidak tergantung pada perilaku dimana situasi ini menunjukkan tingkat stres yang tinggi. Penelitian tentang tujuan ini menunjukkan bahwa stress diproduksi oleh stimulus aversive yang mungkin diolah melebihi kemampuan dan kontrol waktu serta jangka waktu dari stimuli ini daripada dengan kenyataan penderitaan yang dialami. Dampak dari stimuli ini dapat diperkecil kemungkinannya jika individu dapat mengontrolnya.
c.       Interactional model
Model ini merupakan perpaduan dari response-based model dan stimulus-based model. Ini mengingatkan bahwa dua model terdahulu membutuhkan tambahan informasi mengenai motif-motif individual dan kemampuan mengcoping (mengatasi).
Pendekatan interaksional beranggapan bahwa keseluruhan pengalaman stres di dalam bebrapa situasi akan tergantung pada keseimbangan antara stresor, tuntutan dan kemampuan mengcoping. Stres dapat menjadi tinggi apabila ada ketidak seimbangan antara dua faktor, yaitu ketika tuntutan melampaui kemampuan coping.
Dan untuk pengaruhnya dengan psikologi lingkungan ada juga beberapa jenis stres. Holahan (1981) menyebutkan jenis stres yang dibedakan menjadi dua bagian yaitu systemic stres dan psychological stres. Systemic stres didefinisikan oleh Selye (dalama Holahan, 1981) sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap tuntutan lingkungan. Ia menyebut kondisi-kondisi yang ada di lingkungan yang menghasilkan stres, contohnya temperatur yang ekstrim. Dan yang kedua yaitu Psychological stress yang terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan coping nya. Sebuah situasi dapat terlihat sebagai suatu ancaman dan berbahaya secara potensial apabila melibatkan hal yang memalukan, kehilangan harga diri, kehilangan pendapatan dan lain-lain.
Sumber stres juga mempengaruhi stres dengan lingkungan. Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber stres. Yang pertama adalah fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas dan melibatkan banyak orang seperti bencana. Kedua, kejadian yang menyesuaikan atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap kematian dan penyakit. Dan yang ketiga adalah daily hasles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidak puasan kerja atau masalah-masalah lingkungan lainnya.
Dalam konteks lingkungan binaan, maka stres dapat muncul jika lingkungan fisik dan rancangan secara langsung atau tidak langsung menghambat tujuan penghuni, dan jika rancangan lingkungannya membatasi strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, maka hal itu merupakan sumber stres (Zimring dalam Prawitasari, 1989).
Apakah stres bisa mempengaruhi perilaku dalam lingkungan?
Tentu saja stres bisa mempengaruhi perilaku seseorang, baik dalam lingkungan sehari-hari nya ataupun lingkungan diluar kesehariannya. Misalkan seseorang yang berada di lingkungan rumahnya ia bisa stres karena kepadatan dan kesesakan disekitar rumahnya. Karena stres itu juga dapat menyebabkan ssseseorang dan lingkungannya kurang dapat bersahabat misalnya jalinan antar tetangga semakin renggang.
Di sekolah atau universitas pun juga demikian, stres yang ditimbulkan pastinya akan mempengaruhi kondisi baik di antara teman-temannya, dosen, dan tugas-tugas yang diberikan.

Senin, 25 April 2011

PENGERTIAN TENTANG PRIVASI, PERSONAL SPACE, TERITORIALITAS.

1. PRIVASI
    
A.      PENGERTIAN
  Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).
Dalam hubungannya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya. Ada saat – saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan ada saat – saat dimana ia ingin menyendiri dan terpisah dari orang lain (privasi tinggi). Untuk mencapai hal itu, ia akan mengontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku, yang digambarkan oleh Altman sebagai berikut:
    a.      Perilaku verbal
Perilaku ini dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal. Misalnya “maaf, saya harus menyelesaikan tugas”
    b.      Perilaku non verbal
Perilaku ini dilakukan dengan cara menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidak senang. Misalnya, jika seseorang tidak senang dengan sesuatu ia akan membuang muka atau langsung pergi. Begitu juga sebaliknya, jika ia senang dengan situasi ia akan tetap mengikuti itu dengan tertawa atau memasang muka yang bahagia.
    c.       Mekanisme kultural
Budaya mempunyai bermacam – macam adat istiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupankepada orang lain.
    d.      Ruang Personal
Adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempunyai kecenderungan berafiliasi tinggi, ekstrovert atau yang mempunyai sifat hangat dalam berhubungan interpersonal mempunyai ruang personal lebih kecil daripada individu yang introvert (Gifford, 1987).
    e.       Teritorialitas
Pembentukan kawasan teritorial adalah mekanisme perilaku lain untuk mencapai privasi tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dan orang lain maka pada teritorialitas batas – batas tersebut nyata dengan tempat yang relatif tetap.
            
B.       FUNGSI
Altman (1975) menjabarkan beberapa fungsi privasi sebagai berikut:
    1.      Privasi adalah pengatur dan pengontrol intekasi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama – sama orang lain.
    2.      Merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keintiman atau jarak dalam berhubungan dengan orang lain.
    3.      Memperjelas identitas diri

C.       JENIS PRIVASI
Menurut Holahan (1982) ada 6 jenis privasi:
    1.      Keinginan untuk menyendiri
    2.      Keinginan untuk menjauhi pandangan dan gangguan suara tetangga atau     kebisingan lalu lintas
    3.      Kecenderungan untuk intim terhadap orang - orang tertentu (keluarga)  
         tetapi jauh dari semua orang
    4.      Keinginan untuk merahasiakan jati diri agar tidak dikenal orang lain
    5.      Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak
    6.      Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga

D.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRIVASI
a     Faktor Personal
Perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa anak – anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat ia dewasa. Sedangkan orang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonim dan intimacy.
    b.        Faktor Situasional
Beberapa hasil penelitian tentang privasi dalam dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasaan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang – orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987)
    c.        Faktor budaya
Penemuan dari beberapa peneliti, tentang privasi dalam berbagai budaya. Memandang bahwa tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).

E.     PENGARUH PRIVASI TERHADAP PERILAKU
Kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang – orang yang “sulit” (Schwatrz, dalam Holahan 1982).
Selain itu, privasi juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi yaitu mengenal dan menilai diri sendiri. Proses mengenal dan menilai diri ini tergantung pada kemampuan untuk mengatur sifat dan gaya interaksi sosial dengan orang lain. Bila kita tidak dapat mengontrol interaksi dengan orang lain, kita akan memeberikan informasi yang negatif tentang kompetensi pribadi kita atau akan terjadi proses ketelanjangan sosial dan proses deindividuasi.
Jadi, privasi memainkan peran dalam mengelola interaksi sosial yang kompleks di dalam kelompok sosial dan privasi membantu kita memantapkan perasaan identitas pribadi.

2. PERSONAL SPACE (RUANG PERSONAL)

   Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991). Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak sosial antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembatas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu lain.
   Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak atau daerah disekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.
   Menurut Edward T. Hall, seorang antropog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yang meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak sosial, jarak publik. Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975).


3. TERITORIAL

A. Pengertian Teritorial

Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengunkapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatnya atau area yang sering melibatkani ciri pemilikannya dan pertahanan dari seranganorang lain. Dengan demikian menurut Altman (1975) penghuni tempat tersebut dapat mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar, atau merupakan suatu teritorial primer.
Sommer dan de War (1963) berpendapat bahwa ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah.


B. Pengertian Teritorial
Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari teritorialita, yaitu :
1. Kepemilikan atau hak dari suatu tempat.
2. Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu.
3. Hak untuk mempertahankan diri dari gambaran luar.
4. Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya 


kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.
Porteus (dalam Lang, 1987) mengidentifikasi 3 kupulan tingkat spasial yang saling terkait satu sama lain :
1. Personal space, yang telah banyak dibahas dimuka.
2. Home base, ruang-ruang yang dipertahankan secara aktif, misalnya rumah tinggal atau lingkungan rumah tinggal.
3. Home range, seting-seting perilaku yang terbentuk dari bagian kehidupan seseorang.


Sementara itu, Altman membagi teritorilitas menjadi tiga, yaitu antara lain :
1. Teritorial Primer
Jenis teritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori utama ini akan mengakibatkan timbulnya perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori utama ini akan mengakibatkan masalah yang serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya. Yang termasuk dalam teritorial ini adalah ruang kerja, ruang tidur, pekarangan, wilayah negara, dan sebagainya.
2. Teritorial Primer
Jenis teritori ini leboh longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Teritorial ini dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritorial sekunder adalah semi-publik. Yang termasuk dalam teritorial ini adalah sirkulasi lalu lintas di dalam kantor, toilet, zona, servis, dan sebagainya.
3. Teritorial Umum
Teritorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat di mana teritorial umum ini berada. Teritorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat. Contoh taman kota, tempat duduk dalam bis kota, gedung bioskop, ruang kuliah, dan sebagainya. Berdasarkan pemakaiannya, teritorial umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu stalls, turns, dan use space.


C. Pengertian Teritorial
Suatu studi menarik dilakukan oleh Smith (dalam Gifford, 1977) yang melakukan studi tentang penggunaan pantai orang-orang Perancis dan Jerman. Studi ini yang memiliki pola yang sama dengan studi yang lebih awal di Amerika, sebgaimana yang dilakukan oleh Edney dan Jordan-Edney (dalam Gifford, 1987). Hasil dari kedua penelitian ini meninjukkan bahwa penggunaan pantai antara orang Perancis, Jerman, dan Amerika membuktikan sesutu hal yng kontras. Smith menemukan bahwa dari ketiga bidaya ini memiliki persamaan dalam hal respek. 


empunyai tempat untuk dirinya sendiri.
Sumber : Prabowo, H. 1998. Arsitektur, psikologi dan masyarakat,  http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf. Diakses tanggal 23 Maret 2011

Kamis, 24 Maret 2011

Kepadatan dan Kesesakan Lingkungan

Definisi Kepadatan
Kepadatan yaitu sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik. Dimana suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia tersebut pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya.
Penelitian terhadap manusia pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial dan bagaimana dampaknya terhadap task performance (kinerja tugas). Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan, diantaranya :
1.      ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.
2.      peningkatan agresivitas pada anak – anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.
3.      terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.
Pembicaraan tentang kepadatan tidak terlepas dari masalah kesesakan. Kesesakan atau crowding merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, sehingga lebih bersifat psikis. Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang lain tanpa diinginkan individu tersebut.
Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor, yaitu:
a. seting fisik.
b. seting sosial.
c. personal.
d. Kemampuan beradaptasi.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan
1. Faktor Personal
·         Kontrol Pribadi dan Locus Of Control. Kepadatan meningkat bias menghasilkan kesesakan bila individu sudah tidak punya control terhadap lingkungan sekitarnya. Control pribadi dapat mengurangi kesesakan. Locus Of Control ibternal : Kecendrungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaab yang ada di dalam dirinya lah yang berpengaruh kedalam kehidupannya.
·         Budaya, pengalaman dan proses adaptasi
Menurut Sundstrom : Pengalaman pribadi dalam kondisi padat mempengaruhi tingkat toleransi.
Menurut Yusuf : Kepadatan meningkat menyebabkan timbulnya kreatifitas sebagai intervensi atau upaya menekankan perasaan sesak.
·         Jenis kelamin dan usia
Pria lebih reaktif terhadap kondisi sesak Perkembangan, gejala reaktif terhadap kesesakan timbul pada individu usia muda.
2. Faktor Sosial
a. Kehadiran dan perilaku orang lain
b. Formasi koalisi
c. Kualitas hubungan
d. Informasi yang tersedia

3. Faktor Fisik
·         Goves dan Hughes : Kesesakan didalamnya rumah berhubungan dengan factor-faktor fisik, jenis rumah, urutan lantai, ukuran, suasana sekitar.
·         Altman dan Bell, dkk : Suara gaduh,panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, karakteristik setting mempengaruhi kesesakan.

Pengertian Kesesakan
Kesesakan merupakan fenomena yang akan menimbulkan permasalahan bagi setiap negara didunia dimasa yang akan datang. Hal ini dikarenakan terbatasnya luas bumi dan potensi sumbar daya alam yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, sementara perkembangan jumlah manusia di dunia tidak terbatas.
Kesesakan timbul dari perkembangan jumlah manusia di dunia pada masa kini telah menimbulkan berbagai masalah sosial dibanyak negara(mis: Indonesia, Cina, India dan sebagainya), baik permasalahan yang bersifat fisik maupun psikologis. Dalam perspektif Psikologis dari kesesakan adalah semakin banyaknya orang yang mengalami stres dan berperilaku agresif destrukif.

3 teori Kesesakan :
1.      Teori Beban Stimulus
Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungan.
Menurut Keating, Stimulus adalah hadirnya banyak orang dan aspek-aspek interaksinya, kondisi lingkunga fisik yang menyebabkan kepadatan social. Informasi yang berlebihan dapat terjadi karena :
a. Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
b. Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat
c. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
d. Terlalu banyak mitra interaksi
e. Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama

2. Teori Ekologi
Membahas kesesakan dari sudut proses social
a.      Menurut Micklin :
Sifat-sifat umum model pada ekologi manusia :
1.      Teori ekologi perilaku : Fokus pada hubungan timbale balik antara manusia dan lingkungan.
2.      Unit analisisnya : Kelompok social, bukan individu dan organisasi social memegang peranan penting
3.      Menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial
b.  Menurut Wicker :
Teori Manning : Kesesakan tidak dapat dipisahkan dari factor setting dimana hal itu terjadi.

3. Teori Kendala Perilaku
Kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu.Kesesakan akan terjadi bila system regulasi privasi seseorang tidak berjalan secara lebih efektif.

Solusi :
Dalam hal ini, menurut saya untuk mengatasi kepadatan dan kesesakkan penduduk yaitu, dengan cara meningkatkan program transmigrasi penduduk. Juga dapat memperlebar lapangan pekerjaan dari kota - kota besar ke wilayah - wilayah yang masih sedikit penduduknya. Agar tidak terjadinya ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.peningkatan agresivitas pada anak – anak dan orang dewasa juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok. Dan terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan


Minggu, 27 Februari 2011

Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku seksual Anak Angkat

Karena sudah 10 tahun tidak di karunia anak juga, seorang pasangan mengangkat seorang ank yang berusia 7 tahun dari sebuah RSB (rumah bersalin). Sebut saja namanya M. Menurut keterangan kepala RSB yang menyerahkan M, ia ditinggal pergi ibunya sejak lahir. Lalu M tinggal bersama kepala rsb, tetapi sehari-hari ia berada di rumah sakit. Ibaratnya rumah sakit (rsb tsb) telah menjadi rumahnya. Ia bergaul dengan pasien, para medis, karyawan rsb, satpam dsb.
Setelah itu M dimasukkan ke suatu sekolah, Karena keluarga itu sudah menyayanginya seperti yang lain.
Lalu timbul masalah yg ada di diri M, mulai dari berbicara kotor sampai bermain permainan yang tidak semestinya lakukan dengan sepupunya. Lalu kedua orangtuanya pun terperangah dengan ulah M

Author: Rini. Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku seksual Anak Angkat. http://www.psikoanak.com/pengaruh-lingkungan-terhadap-perilaku-seksual-anak-angkat/. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011.