Senin, 16 Mei 2011

Stres

STRES
Pengertian stress
Istilah stres dikemukakan oleh Hans Selye yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas disulut oleh berbagai faktor psikologis atau faktor fisik atau kedua kombinasi faktor tersebut. Menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stres tidak saja kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari,1989).
Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam 3 pendekatan yaitu Stimulus, Respons dan Proses.
1.      Stimulus
Kita dapat mengetahui hal ini dari pilihan seseorang terhadap sumber atau penyebab ketegangan berupa keadaan atau situasi dan peristiwa tertentu. Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut stressor. Beberapa ahli mengkategorikan ini menjadi 3, yaitu:
a.       Peristiwa Katastropik, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir bandang.
b.      Peristiwa hidup yang penting, misalnya di PHK atau perceraian.
c.       Keadaan kronis, misalnya hidup pada situasi dan kondisi yang sesak dan padat.
2.      Respons
Respon yaitu reaksi seseorang terhadap stressor. Maka diketahui terdapat 2 komponen.
a.       Komponen psikologis, contohnya seperti pola perilaku, berpikir dan emosi.
b.      Komponen fisiologis, contohnya seperti detak jantung, keringat, sakit perut.
Kedua respon ini disebut dengan strain atau ketegangan.
3.      Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain ditambah dengan satu lagi hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang di dalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

Apa kaitan stres dengan psikologi lingkungan?
Ada beberapa model stres. Cox (dalam Crider, dkk 1983) mengemukakan 3 model stres yaitu:
a.       Response-based model
Stres model ini mengacu pada sebagai kelompok gangguan kejiwaan dan respon-respon psikis yang timbul pada situasi sulit. Model ini mencoba untuk mengidentifikasikan pola-pola kejiwaan dan respon-respon kejiwaaan yang diukur pada lingkungan yang sulit. Pusat perhatian dari model ini adalah bagaimana stressor yang berasal dari peristiwa lingkungan yang berbeda-beda dapat menghasilkan respon stres yang sama.
b.      Stimulus-based model
Model stres ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat stimuli stres. Ada 3 karakteristik dari stimuli stres ini:
1)      Overload
Karakteristik ini diukur ketika sebuah stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat mengadaptasi lebih lama lagi.
2)      Conflict
Konflik diukur ketika sebuah stimulus secara simultan membangkitkan dua atau lebih respon-respon yang tidak berkesesuaian. Situasi-situasi konflik bersifat ambigu, dalam arti stimulus tidak memperhitungkan kecenderungan respon yang wajar.
3)      Uncontrollability
Adalah peristiwa-peristiwa dari kehidupan yang bebas atau tidak tergantung pada perilaku dimana situasi ini menunjukkan tingkat stres yang tinggi. Penelitian tentang tujuan ini menunjukkan bahwa stress diproduksi oleh stimulus aversive yang mungkin diolah melebihi kemampuan dan kontrol waktu serta jangka waktu dari stimuli ini daripada dengan kenyataan penderitaan yang dialami. Dampak dari stimuli ini dapat diperkecil kemungkinannya jika individu dapat mengontrolnya.
c.       Interactional model
Model ini merupakan perpaduan dari response-based model dan stimulus-based model. Ini mengingatkan bahwa dua model terdahulu membutuhkan tambahan informasi mengenai motif-motif individual dan kemampuan mengcoping (mengatasi).
Pendekatan interaksional beranggapan bahwa keseluruhan pengalaman stres di dalam bebrapa situasi akan tergantung pada keseimbangan antara stresor, tuntutan dan kemampuan mengcoping. Stres dapat menjadi tinggi apabila ada ketidak seimbangan antara dua faktor, yaitu ketika tuntutan melampaui kemampuan coping.
Dan untuk pengaruhnya dengan psikologi lingkungan ada juga beberapa jenis stres. Holahan (1981) menyebutkan jenis stres yang dibedakan menjadi dua bagian yaitu systemic stres dan psychological stres. Systemic stres didefinisikan oleh Selye (dalama Holahan, 1981) sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap tuntutan lingkungan. Ia menyebut kondisi-kondisi yang ada di lingkungan yang menghasilkan stres, contohnya temperatur yang ekstrim. Dan yang kedua yaitu Psychological stress yang terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan coping nya. Sebuah situasi dapat terlihat sebagai suatu ancaman dan berbahaya secara potensial apabila melibatkan hal yang memalukan, kehilangan harga diri, kehilangan pendapatan dan lain-lain.
Sumber stres juga mempengaruhi stres dengan lingkungan. Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber stres. Yang pertama adalah fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas dan melibatkan banyak orang seperti bencana. Kedua, kejadian yang menyesuaikan atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap kematian dan penyakit. Dan yang ketiga adalah daily hasles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidak puasan kerja atau masalah-masalah lingkungan lainnya.
Dalam konteks lingkungan binaan, maka stres dapat muncul jika lingkungan fisik dan rancangan secara langsung atau tidak langsung menghambat tujuan penghuni, dan jika rancangan lingkungannya membatasi strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, maka hal itu merupakan sumber stres (Zimring dalam Prawitasari, 1989).
Apakah stres bisa mempengaruhi perilaku dalam lingkungan?
Tentu saja stres bisa mempengaruhi perilaku seseorang, baik dalam lingkungan sehari-hari nya ataupun lingkungan diluar kesehariannya. Misalkan seseorang yang berada di lingkungan rumahnya ia bisa stres karena kepadatan dan kesesakan disekitar rumahnya. Karena stres itu juga dapat menyebabkan ssseseorang dan lingkungannya kurang dapat bersahabat misalnya jalinan antar tetangga semakin renggang.
Di sekolah atau universitas pun juga demikian, stres yang ditimbulkan pastinya akan mempengaruhi kondisi baik di antara teman-temannya, dosen, dan tugas-tugas yang diberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar